Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

ASAL-USUL KAPUGERAN RANGKASBITUNG


RIF-RANGKASBITUNG

Berjarak hanya hitungan langkah dari Pendopo atau Kantor Bupati Lebak di Rangkasbitung ada sebuah daerah bernama Kapugeran. 

Nama Kapugeran ternyata tak hanya di Rangkasbitung. Di Semarang dan Jogjakarta pun ada daerah yang bernama Pugeran.

Bila ditelaah dari Kamus bahasa Jawa, Pugeran berasal dari kata Paugeran yang berarti Panutan atau contoh yang baik. Ada juga mengartikannya sebagai patokan atau aturan.

Pugeran atau di Rangkasbitung bernama Kapugeran adalah pemukiman yang sudah ada sejak jaman kolonial Belanda. Awalnya, wilayah Kapugeran hanya diperuntukkan bagi pegawai atau abdi dalem keraton. Kalau di Lebak, bisa jadi Kapugeran adalah pemukiman untuk pegawainya bupati.
Namun, seiring jaman, penghuni kawasan ini silih berganti. Namun nama Kapugeran atau pemukiman pegawai pemerintah masih melekat. (*)

Tulisan ini dipersembahkan oleh :


KAOS UWA BIKANG
GROSIR SERAGAM STADION ONA
STADION ONA GERBANG BARAT NO. C7
081807837312

ASAL-USUL KAMPUNG BARU RANGKASBITUNG


RIF - RANGKASBITUNG

Ternyata masalah banjir di Kabupaten sudah terjadi sejak jaman kolonial. Daerah-daerah langganan banjir kebanyakan berada pada perkampungan sepanjang sepadan Sungai Ciujung seperti Kampung Jeruk, Lebak Pasar dan Muhara.

Pemerhati sejarah asal Lebak, Tubagus Aziz, menjelaskan, memikirkan nasib warga yang sering kebanjiran tersebut, Bupati Lebak saat itu, Hardiwingun di era tahun 1940-an menggagas pemindahan atau relokasi warga ke daerah yang bebas banjir.
Lanjut Azis, pemerintah saat itu kemudian membebaskan lahan di daerah yang kemudian menjadi Kampung Baru.

Lahan itu dibagikan dengan cara hibah kepada warga yang mau pindah ke lahan tersebut. Sedangkan untuk bangunan rumahnya dibangun sendiri oleh warga yang beruntung mendapatkan hibah lahan tersebut.

Karena menjadi sebuah pemukiman baru, tempat itu kemudian disebut Kampung Baru.
Kampung Baru saat ini menjadi daerah padat penduduk karena letaknya strategis di jantung kota Rangkasbitung. (*)

Tulisan ini dipersembahkan oleh :
uwa bikang

(Jika Ingin mengcopy tulisan di dalam blogger ini, harap cantumkan sumber linknya, haturnuhun)

ASAL-USUL SUMUR BUANG RANGKASBITUNG, JEJAK PENINGGALAN TUBAGUS BUANG?



RIF – RANGKASBITUNG

Di Kabupaten Lebak ada sebuah yang bernama Sumurbuang. Tepatnya, berada di wilayah administratif kecamatan Cibadak.

Warga sekitar meyakini, nama Sumurbuang ada kaitannyan dengan Tubagus Buang atau Ratu Bagus Buang. Ada banyak versi tentang siapa Tubagus Buang ini. Termasuk, dimana tempat dimakamkanya.
Perempatan Sumurbuang Kecamatan Cibadak Kab. Lebak

Entah dari mana sumber pastinya, nama Sumurbuang adalah nama sebuah sumur alam. Konon, sumur ini sering disinggahi Tubagus Buang saat dalam perjalanan dari Kesultanan Banten menuju daerah di sekitarnyan yang sekarang menjadi wilayah Lebak, Bogor atau Pandeglang.

Dari cerita mulut ke mulut disebutkan, Tubagus Buang pernah dipercaya Sultan Banten membangun bendungan Pamarayan. Konon, pada saat pembagian upah bagi pekerja, Tubagus Buang meletakkan uang di atas meja dan pekerja mengantri mengambil upahnya sendiri. Semua bebas mengambil uang yang ada di meja semaunya. Namun jika ada yang mengambil lebih banyak dari upah yang seharusnya diterima maka uang itu akan kembali ke meja semula.

Tempat pembagian uang kepada pekerja bendungan itu kemudian dinamakan Pamarayan atau tempat membayar. Pamarayan sekarang menjadi salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Serang.

Di Sumurbuang dulu ada balai kambang atau surau kecil untuk singgah bagi mereka yang bepergian. Balai kambang tersebut berdekatan, bahkan berdampingan dengan sumur.

Namun seiring waktu, Sumurbuang sudah tak lagi berfungsi. Seiring wilayah Sumurbuang yang maju pesat menjadi daerah perumahan.

Menurut riwayat Tubagus Buang adalah seorang waliyullah dengan nama Syaikh Abdullah dengan nama keningratan Pangeran Ariya Qodli Djayasantika bin Pangeran Mandura (Tubagus Tong) bin Sulthan Maulana Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qodir (Sulthan Banten ke-4. Kenari, Serang) bin Sulthan Maulana Muhammad (Pangeran Ratu Ing Banten, Sulthan Banten ke-3) bin Sulthan Maulana Yusuf (Panembahan Pakalangan Gede, Sulthan Banten ke-2. Kasunyatan, Serang) bin Sulthan Maulana Hasanuddin (Panembahan Surosowan, Sulthan Banten Pertama. Banten Lama, Kota Serang).

Ada beberapa versi berbeda tentang tempat pemakamannya, diantaranya
Di Kp. Kadujuru, Cadasari, Pandeglang, Banten (disamping pom bensin kadujuru)Pamarayan, Serang, Banten (dekat pintu air pamarayan) Kasunyatan, Serang, Banten (kawasan pemakaman Sulthan Maulana Yusuf) Terumbu, Serang, Banten Banten Lama, Kota Serang (dibelakang kawasan pemakaman Sulthan Banten) Cianjur, Jawa BaratTanjung Karang, Lampung dan Jasinga Bogor. (*)

Pernah dimuat di Toptime.co.id

FILOSOFI DAN BUDAYA BABACAKAN





Dalam budaya modern, kita mengenal acara tiup lilin dan potong kue saat perayaan ulang tahun. Namun jauh sebelum budaya modern tersebut ada, nenek moyang kita telah mengenalkan tradisi bancakan. Bancakan adalah acara makan bersama dalam satu wadah. Tradisi bancakan ini masih sangat populer di kampung-kampung, utamanya di Jawa.

Bancakan merupakan bagian dari selamatan atau syukuran yang biasanya diadakan sebagai bentuk rasa syukur untuk memperingati kelahiran atau weton (hitungan hari di penanggalan jawa) anak juga untuk acara lain yang intinya untuk mengungkapkan rasa syukur.

Keluarga atau orang tua yang hendak mengadakan selamatan memasak nasi, lauk-pauk, dan sayuran dalam porsi besar untuk acara ini. Bumbu yang biasanya ada dalam menu bancakan adalah urapan. Urapan dibuat dari sayuran rebus dicampur dengan parutan kelapa muda yang diberi bumbu yang terdiri dari cabe, lengkuas, bawang merah, bawang putih, daun jeruk purut, gula, dan ditambah garam secukupnya. Jika biasanya bumbu urapan dimasak dengan cara dikukus, ada cara memasak urapan yang lebih khas lagi. Parutan kelapa yang sudah tercampur dengan bumbu diulet bersama kreweng (kepingan genteng) yang dibakar sampai membara sampai tercium bau sedap. Sementara lauk yang biasa hadir di menu bancakan adalah telur rebus dan ayam panggang.

Nasi, lauk, dan bumbu disajikan di atas nampan besar atau tampah. Anak-anak dan para tetangga diundang untuk ikut makan bersama dalam satu nampan besar tersebut. Sebelum makanan tersebut disajikan, ada sesepuh yang membacakan doa dengan tujuan demi keselamatan si anak. Selain dimakan bersama, makanan bancakan tersebut juga dibagikan pada tetangga dekat dan kerabat dekatnya.

Tradisi bancakan mempunyai filosofi yang sudah mengakar dalam masyarakat. Saat makan bersama dalam satu nampan, setiap orang duduk rendah mengelilingi nampan. Tidak ada perbedaan apakah anak tersebut anaknya orang kaya atau miskin, apakah orang tua atau muda. Semua dianggap sama statusnya. Juga tidak ada rasa jijik saat menyantap makanan bersama, malah mengikuti bancakan merupakan kegiatan yang menarik minat banyak anak-anak dan mampu membangkitkan selera makan mereka.

Budaya ini juga mencerminkan semangat gotong-royong dan kerukunan dalam bermasyarakat. Setiap yang hadir dan ikut bancakan turut mendoakan anak yang baru lahir atau yang diperingati hari wetonnya. Anak yang dibuatkan bancakan diharapkan hidupnya selalu dilimpahi kebaikan, sehat, berkah, dan bermanfaat bagi sesama.

Semoga budaya asli bangsa yang sarat filosofi ini bisa tetap lestari ditengah budaya modern yang kita jalani.

Tapi jangan lestarikan BANCAKAN UANG RAKYAT kaya wakil rakyat yang terhormat itu tuh itu....

Diambil dari berbagai sumber.

SEJARAH KEJAYAAN STASIUN RANGKASBITUNG DAN PABRIK MINYAK MEX OLIE


Stasiun Rangkasbitung ini berdasarkan catatan dioperasikan pada 1 Juli 1900, sekaligus satu-satunya stasiun besar di Provinsi Banten. Pembangunan stasiun ini ditujukan untuk menunjang sarana transportasi Kota Rangkasbitung sebagai kota industri di Banten pada masa Kolonial, karena pada masa jayanya stasiun ini merupakan urat nadi perekonomian masyarakat Banten, Rangkasbitung yang ketika itu merupakan kota industri pertanian yang sangat bergantung pada kelancaran arus perputaran transportasi untuk membawa hasil perkebunan dan pertanian ke Jakarta, dan itu bisa diatasi dengan keberadaan Stasiun Rangkasbitung. Sampai sekarang stasiun ini masih digunakan sebagai sarana transportasi untuk menunjang transportasi darat antara kota Rangkasbitung dengan Jakarta.

Disamping stasiun ini masih difungsikan, kini stasiun Kereta Api Rangkasbitung sudah resmi menjadi salah satu Benda Cagar Budaya, berdasarkan undang-undang No. 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya, oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten.

Stasiun Rangkasbitung (RK) adalah stasiun kereta api kelas besar yang terletak di Muara Ciujung Timur, Rangkasbitung, Lebak. Stasiun yang terletak pada ketinggian +22 meter ini termasuk dalam Daerah Operasi I Jakarta dan merupakan stasiun terbesar di Provinsi Banten. Semua kereta api yang melintasi jalur kereta api Tanahabang-Merak pasti berhenti di stasiun ini. Di stasiun ini juga terdapat berturut-turut dipo kereta dan dipo lokomotif yang menyimpan dan merawat gerbong KA Lokal Merak dan lokomotif jenis CC201, CC203 atau CC206 yang didatangkan dari Dipo lokomotif Jatinegara dan Tanahabang.

Stasiun kereta api Rangkasbitung menjadi saksi perkembangan ekonomi Banten. Dahulu, daerah ini ramai dengan pengiriman hasil rempah, pertanian, tambang, dan olahan bumi lain.

Rangkasbitung adalah kota metropolis pertama di Lebak, Banten. Karena itu stasiun Rangkasbitung memiliki peran penting dalam membawa orang-orang yang hendak datang dan pergi.

Yang paling terlihat sampai saat ini puing pabrik minyak kelapa Mex Oil, dan dianggap paling besar pada masa itu (Indonesia), memiliki regulasinya sendiri. Ada jalur khusus kereta untuk masuk dan keluar membawa minyak secara leluasa. Itu menandakan betapa pentingya fungsi kereta api. Rangkasbitung menjadi pusat perkantoran kelapa. Berdirinya pabrik minyak terbesar, dan pengolahan hasil bumi. Rangkasbitung menjadi kota administratif.

Sejarah pabrik minya kelapa ini pada awalnya, wilayah Lebak hanya mampu menyediakan bahan bakunya saja, lalu dirimkan ke Jawa, tapi ketika permintaan melonjak, Jawa tidak menyanggupinya, akhirnya dipilihlah kota Rangkasbitung sebagai titik pabrik pengolahan minyak kelapa.

Selain itu alasan pemilihan kota Rangkasbitung menjadi pabrik pengolahan pabrik minyak kelapa karena sebelumnya memang sudah ada pabrik kecil dan memiliki wilayah sekitarnya sebagai tempat bahan baku serta lokasinya yang strategis dekat dengan pusat pemerintahan.

Ternyata pabrik ini bukan hanya memproduksi minyak kelapa melainkan juga senjata, khususnya mortir dan granat berikut alat pelontarnya, dan bom-bom tarik serta ranjau darat,” tulis Matia Madjiah dalam Kisah Seorang Dokter Gerilya dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten.

Pembuatan senjata itu berada di bawah pengawasan Mayor Widagdo, kepala bagian Persenjataan Brigade Tirtayasa. Mayor Widagdo ini belakangan terkenal sebagai Hantu Jembatan, karena dia banyak menghancurkan jalan dan jembatan-jembatan penting ketika Belanda melancarkan agresi militer kedua.

Sayangnya, mortir hasil berdikari ini tidak dilengkapi dengan alat pengontrol dan tidak diketahui pasti sampai sejauh mana jangkauan daya tembaknya.

Karena tidak memiliki peralatan pengontrol, maka dalam pemakaiannya beberapa kali terjadi pelurunya tidak terlontar, tapi meletus di dalam tabung,” tulis Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari dalam Catatan Masa Lalu Banten. Biasanya, seperti di daerah-daerah lain yang membuat senjata, tabung mortir itu terbuat dari tiang listrik.

Meskipun demikian, para prajurit cukup bangga memilikinya. Mortir itu sedikit banyak dapat menaikkan gengsi pasukan dan menambah semangat prajurit.

Lalu Mengenai pemukiman di sekitar stasiun Rangkasbitung atau yang lebih dikenal dengan kampung Bedeng. Bedeng artinya rumah/pemukiman sementara para pekerja.

Ketika itu Rangkasbitung jaman dulu memang sangat berjaya, sampai-sampai menjadi daya tarik sendiri. Awalnya orang datang ke Rangkasbitung hanya untuk bekerja, tapi lama kelamaan muncul permukiman di sekitar areal stasiun seiring semakin ramainya perdagangan.

Sejarah kejayaan stasiun Rangkasbitung mulai tergantikan sedikit demi sedikit, dengan banyak pemukiman di sekitar areal stasiun. Stasiun menjadi rumah bagi anak-anak jalanan, stasiun menjadi rumah bagi pekerja seks, stasiun rumah preman, stasiun rumah hitam dengan sederet permasalahan kehidupan. Hingga pada akhirnya kesan negatif melekat pada stasiun Rangkasbitung.

Namun kini pemukiman dan pertokoan di areal stasiun Rangkasbitung sudah rata dengan tanah. Sebanyak 105 bangunan yang berada disekitar Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, dengan luas lahan mencapai 9.449 m2, digusur oleh pihak PT. KAI Daop 1 Jakarta. Penggusuran dengan mengerahkan 200 personil berikut dari unsur kewilayahan, Agustus 2017.

Langkah penertiban tersebut dilaksanakan dalam rangka pengembangan Stasiun Rangkasbitung. Dimana, sejak dioperasikannya KRL tujuan Stasiun Rangkasbitung, keinginan masyarakat menggunakan jasa angkutan kereta api terus mengalami meningkat.

Penggunaan kereta apipun menjadi sebuah sejarah yang sangat membanggakan ketika Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno berkunjung ke Rangkasbitung pada awal tahun 1957. Beliau melakukan perjalanan ke Rangkasbitung, Ibu kota Kabupaten Lebak sekarang, dilakukan menggunakan Kereta Api UAP, menempuh jarak 83 km melewati jalur Serpong dan Parung Panjang. Ini merupakan sejarah sangat membanggakan bagi kita warga Rangkasbitung bisa di singgahi oleh Presiden pertama Republik Indonesia.

Nah itulah sedikit gambaran tentang masa lalu kejayaan Stasiun Rangkasbitung, semoga bermanfaat. Silahkan share...

Sumber: diolah dari berbagai sumber, Kisah Seorang Dokter Gerilya dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten
https://goo.gl/vPzd1n

SEJARAH KERUNTUHAN KERAJAAN BIOSKOP SEMINAR, APOLLO HINGGA MANDALA THEATER DI RANGKASBITUNG, LEBAK BANTEN


Pada 1980an, anak muda mana yang tidak mengenal Apollo dan Seminar. Kedua nama itu adalah nama bioskop yang hadir pertama kalinya di Rangkasbitung, Bioskop Seminar kemudian disusul Bioskop Apollo. Pertama, Bioskop Apollo letaknya di jalan Sunan Kali Jaga, depan terminal lama lalu yang kedua Bioskop Seminar letaknya di pasar malam. Kedua bioskop ini banyak sekali dikunjungi anak muda, bukan saja dari Rangkasbitung tapi ada juga dari daerah seperti Pandeglang, Parung, Bogor, Labuan, dan masih banyak dari daerah sekitar Rangkasbitung. Film-film yang sering diputar di bioskop tersebut kebanyakan ber genre horor, action, dan film India. Hingga kini, aku sendiri masih nge-fans sama filem Jaka Sembung. Tiketnya pun pada waktu itu berharga Rp.200 sampai Rp.250, dan kalau nonton midnight untuk film khusus dewasa di hargakan 500 rupiah. Uniknya, kita bisa membeli tiket dengan kumpulan bungkus rokok Djarum Coklat.

Menjelang akhir 80-an Bioskop Seminar mengalami defisit sebelum akhirnya gulung tikar. Hal ini tidak terlepas dari mulai banyak penduduk yang menjadikan rumahnya sebagai lahan bisnis untuk bioskop video rumahan. Pemutaran video dilakukan di rumah pribadi dengan tiket antara 50–100 rupiah. Dalam sekali pemutaran video, penonton bisa di perkirakan mencapai 70 orang lebih. Hal ini mungkin dikarenakan film-film yang diputar relatif baru.

Memasuki era 90-an, film-film percintaan anak muda mulai menghiasi baliho kedua bioskop. Seperti Catatan Si Boy, Lupus, Si Roy yang banyak digandrungi anak–anak muda saat itu. Pada 1990-an awal dibangun bioskop baru Mandala letaknya di jalan raya Pandeglang —letaknya saya kurang tahu persis yang pasti nama bioskop ini kemudian diabadikan sebagai nama daerah di Rangkasbitung sampai sekarang.

Mandala Theatre adalah bioskop spesialis film-film mandarin dan ternyata keberadaannya mendapat animo besar dari masyarakat, terutama anak–anak muda. Terbukti dengan setiap pemutaran film yang selalu dikunjungi banyak orang, padahal pada waktu itu daerah ini masih sangat sepi. Seiring jalannya waktu, daerah ini kemudian berubah menjadi hidup dan bergairah dengan hadirnya bangunan toko sampai terminal. Mandala bukan lagi sekedar sebutan untuk nama bioskop tetapi juga daerah penting di Rangkasbitung.

Kembali ke awal 90-an sebenarnya dunia perfilman Indonesia boleh dikatakan sedang lesu–lesunya, ditambah lagi dengan banyaknya televisi swasta, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, dan TPI, lengkap sudah permasalahannya mengapa banyak bioskop yang gulung tikar pada era ini. Begitu pun di Rangkasbitung, kira-kira pada 1996 Bioskop Mandala yang umurnya baru seumur jagung pun akhirnya menurunkan baliho untuk seterusnya lalu disusul oleh bioskop Apollo.

Hari ini/sekarang, belum ada lagi kerajaan bioskop di Rangkasbitung. Bagaimana menurut tanggapan Anda? Buat yang pernah merasakan bioskop-bioskop tersebut, silahkan komen dan ceritakan pengalamannya.

Haturnuhun.

ASAL-USUL NAMA MALANG NENGAH RANGKASBITUNG


Siapa tak tahu wilayah Malangnengah yang berada di daerah Kota Rangkasbitung, beberapa orang mungkin mengetahuinya karena memiliki cerita tersendiri dengan tempat ini atau memiliki kenangan tersendiri di wilayah ini ?? Tapi tidak tahu tentang cerita asal - usulnya ?? sepertinya kurang afdol kalau tidak menceritakannya, Nah berikut ceritanya yang akan di bagikan. Tetapi terdapat 2 Informasi yang berbeda, 1 mengkisahkan tentang Asal Usul Nama Malangnengah dan satu mengkisahkan seorang Tokoh Ulama yang dikisahkan juga menjadi Asal - Usul Nama Kampung Malang Nengah, Berikut ceritanya :

ASAL-USUL MALANGNENGAH
MALANGNENGAH, RANGKASBITUNG

Pada beberapa tahun silam terjadi sebuah asal-usul nama daerah yang di ambil dari suatu peristiwa yang terjadi pada saat itu. Peristiwa yang tidak di duga oleh masyarakat sekitar yang akhirnya bisa menjadi nama daerah mereka sekarang. Nama daerah yang sampai sekarang masih di gunakan yang di kenal oleh masyarakat sekitar bahkan masyarakat dari luar daerah tersebut. "MALANGNENGAH" adalah nama daerah tersebut, nama daerah yang berada di kota RANGKASBITUNG, KABUPATEN LEBAK dan tepatnya dekat dengan daerah BY PASS, Mungkin bila di dengar hanya nama biasa saja, hanya sebuah nama sederhana, bahkan bagi seseorang yang tidak mengetahui asal-usulnya mungkin hanya nama tak memiliki sebuah arti.

Awal mula MALANGNENGAH yaitu pada suatu hari di daerah yang sekarang menjadi nama MALANGNENGAH terdapat pemakaman yang dimana di pemakaman tersebut ada sebuah pohon besar pada saat iu terjadi hujan yang lebat dan konon terjadi puting beliung yang mengakibatkan pohon besar itu roboh, karena pohon itu sangat besar sekali sampai menutupi ruas jalan maka diperlukan waktu berhari-hari untuk memindahkan sebagian pohon yang roboh tersebut dan membersihkannya.

Nama MALANGNENGAH bukan diambil dari bahasa INDONESIA, melainkan diambil dari nama daerah tersebut, "MALANG" diambil dari kata bahasa sunda yang artinya "Menghalangi" sedangkan "NENGAH" yang sama-sama di ambil dari kata bahasa sunda juga yang artinya adalah "Tengah", Jadi menurut masyarakat sekitar karna pohon itu sangat besat dan sulit dipindahkan sampai-sampai menutupi ruas jalan dan karna jatuhnya pun tepat berada di pertengahan jalan dan pada akhirnya masyarakat sekitar menamainya "MALANGNENGAH", Berarti menghalangi ditengah-tengah. (Penulis : Shelly Septiani)

SYEH ARYA MANGUN YUDA
(Legenda Kampung Malangnengah)

Syeh Arya Mangun Yuda adalah seorang ulama terkenal di Banten. Beliau (Syeh Arya Mangun Yuda) diberikan tugas oleh gurunya ke Lebak untuk menyebarkan agama Islam yang waktu itu agama yang baru di Banten. Banten waktu itu merupakan sebuah daerah bagian dari kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi dan masyarakatnya mayoritas menganut agama Hindu, mengalami sebuah gerakan penyebaran Islam yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin purta dari Sunan Gunung Djati Cirebo.

Penempatan Syeh Arya Mangun Yuda di Lebak dilakukan karena Lebak merupakn daerah yang sangat strategis ditinjau dari aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya. Pada perkembangan selanjutnya, Islam di Lebak mengalami kemajuan yang sangat pesat. Masyarakat mampu menerima Islam dengan terbuka karena nilai-nilai yang diajarkan seperti kesetaraan, pemihakan kepada mustad'afin (orang-orang lemah), menjungjung tinggi perempuan, merupakan nilai-nilai yang waktu itu sangat tabu untuk dibicarakan dan diajarkandan, namun dengan datangnya Islam menjadi sebuah ajaran yang harus dilakanakan.

Perkemabangan Islam yang begitu pesat tersebut, terdengar oleh sang Raja Banten yaitu Raja Pucuk Umun dan membuat sang Raja murka karena menggangu stabilitas kemanan dan bertentangan dengan agama yang dianut oleh kerajaan waktu itu.

Raja Pucuk Umun menantang untuk bertarung kanuragan dengan Syeh Arya Mangun Yuda. Pada pertarungan tersebut Prabu Pucuk Umun dapat mengalahkan Syekh Arya Manun Yuda dan mayatnya di masukan kedalam keranjang lalu dihanyutkan kesungai (sungai Ciujung saat ini) dan ketika di tengah-tengah sungai posisi mayatnya posisinya melintang (malang) dan akhirnya disebut dengan Kampung Malangnengah.

Syeh Arya Mangun Yuda di makamkan sebuah tempat yang saat ini adalah TPU malangnengah, sampai sekarang makam tersebut dikramatkan oleh mayarakat karena jasa dan pengorbanan Syeh Arya Mangun Yuda dalam menyebarkan Islam. Dalam perkembangan selanjutknya Kampung Malangnengah menjadi tepat khusus bagi para wali dalam mengjarkandan mneyebarkan Islam di Lebak.


Sumber: Andy Suherman dan Cerita dari Buku "kumpulan cerita rakyat sekitar banten  [Lebak] Selatan"